Efisiensi Closed House

Efisiensi Closed House

Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih besar, dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?

Penggunaan teknologi kandang modern Closed House (kandang tertutup) pada peternakan unggas di Indonesia dalam 2 tahun terakhir berkembang sangat pesat.

Di Jogjakarta dan Jawa Tengah misalnya, dari segi kuantitas serta kualitas demikian maju dan progresif dalam penerapan Closed House dengan peralatan yang otomatis penuh (full automatic). Secara kualitas menyalip wilayah Jawa Timur yang lebih dulu mengenal dan mengadopsi teknologi tersebut.

Hari Sukmawan, peternak broiler (ayam pedaging) di Kecamatan Temon, Kulon Progo, Jogjakarta di 2011 ini memutuskan merenovasi 2 kandang broiler miliknya yang model panggung terbuka (opened) menjadi Closed House (sistem tertutup). Pasalnya, Hari yang mulai beternak bersama beberapa teman dengan populasi awal 5 ribu ekor di 2001 ini, hampir 3 tahun terakhir mengalami kendala yang kompleks.

Sejak total kapasitasnya mencapai 30 ribu ekor per siklus, pengendalian penyakit dan cekaman cuaca ekstrem makin merepotkan, dan serbuan lalat yang dikeluhkan masyarakat saat panen juga makin tinggi. Keuntungan yang diterima pun fluktuatif akibat performa yang dihasilkan juga naik turun.

Pengalaman hampir sama dialami Setya Pudyastiwi. Pemilik kandang yang berlokasi di Bantul, Jogjakarta ini bercerita, kandang terbuka miliknya yang baru berjalan 5 periode belum sekalipun memberikan untung. Salah satu periode bahkan ia hanya memanen 50% ayam karena dihajar wabah penyakit.

Dan periode terakhir ia mengaku tak habis pikir dengan membengkaknya FCR (konversi pakan). Problem cuaca dan penyakit jadi sandungan utama peternakan yang dikelola bersama anaknya Aldhila Putra Satria Jaya ini, sehingga ia memutuskan beralih ke Closed House. Berlokasi di daerah Kokap, Kulon Progo, kini tengah dalam proses pembangunannya, yang terdiri atas 2 lantai untuk 24 ribu ekor broiler.

Lain kisah Wahyu Pratomo. yang telah membuktikan keuntungan penggunaan Closed House. Peternak broiler di Purworejo ini sejak awal usaha langsung menerapkan teknologi itu dengan kapasitas 23 ribu, dan peralatan otomatis penuh, termasuk melengkapi dengan mini silo untuk mencegah keterlambatan pakan.

Kandang berbendera PT Organik Alam Lestari ini beroperasi terhitung Maret lalu, sudah panen 3 kali dan masuk periode ke-4. Performa yang dihasilkan 3 periode setidaknya menguatkan keyakinan Wahyu atas aplikasi Closed House. Data performa satu siklus dengan panen terbaik yang dicapai Wahyu adalah FCR 1,76; umur panen 29,84; bobot panen 1,99; kematian 1,99; serta IP 387,6. Sementara hasil rata-rata 3 periode dapat dilihat di tabel (tabel 1 – Efisiensi Closed House).

Investasi

Wahyu yang sebelumnya tak pernah kenal bisnis perunggasan, dan lebih akrab dengan bisnis pupuk dan jasa konstruksi ini mengaku mempertaruhkan dana sebesar Rp. 946 juta untuk investasi Closed House. “Saya yakin, setelah dianalisis, modal yang dikeluarkan bakal terbayar lunas dalam waktu 2 tahun. Dengan asumsi target 7 siklus dalam setahun tercapai.” tegas Wahyu kepada TROBOS optimis.

invest - Efisiensi Closed House
Investasi – Efisiensi Closed House
Dijelaskan Wahyu, kandangnya terdiri atas 2 lantai berukuran 16 x 54 m² dengan kepadatan populasi 13,5 ekor per m². Bahkan rencananya akan ditingkatkan jadi 14 ekor per m² karena secara teori 15 ekor per m² dapat diterapkan, dengan catatan dilakukan penjarangan pada umur 28-29 hari. Sebagian ayam dipanen, kisaran bobot di umur tersebut 1,5-1,6 kg.

Hasil memuaskan pada siklus terakhir yang mampu meraup untung Rp. 3.050 per ekornya mendorong Wahyu memperbesar skala usaha. Di lokasi yang sama, ia telah selesai membangun kandang kedua berupa kandang 1 lantai berukuran 23 x 66 m², kapasitas 21 ribu ekor dengan biaya yang diperkirakan lebih kecil dari biaya kandang pertama.

Tidak hanya itu ia pun mengaku tengah mempersiapkan kandang ke-3 di Losari, Brebes dengan kapasitas 75 ribu ekor, 3 lantai ukuran 16 x 100 m² yang diperkirakan akan menelan modal sekitar Rp. 3,6 miliar. “Saya menyesal baru mengenal bisnis ini dengan segala teknologinya September tahun lalu. Kalau saja 10 tahun lalu saya tahu, saya membayangkan punya 600 ribu ayam sekarang.” selorohnya diiringi derai tawa.

Sementara Hari, menyebut biaya yang harus ia siapkan Rp. 400 juta untuk bangunan dan listrik, serta Rp. 400 juta lagi untuk mesin dan alat kelengkapan. “Rancangannya, 2 kandang masing-masing berukuran 10 x 115 m² dengan 2 lantai itu akan mampu meningkatkan populasi 2 kali lipat, menjadi 50 ribu – 60 ribu ekor ayam.” terang Hari.

Sedangkan kandang milik Setya unik. Pembangunannya menggunakan rangka baja ringan. Ia mengklaim ini sebagai uji coba yang pertama di Indonesia dan biaya yang dikeluarkannya 40% lebih rendah ketimbang menggunakan baja. Ia berani mencoba karena pihak kontraktor menjamin kekuatan kandang, dan memberi jaminan penggantian termasuk ayamnya apabila dalam 10 tahun terjadi kerusakan konstruksi.

Setya yakin dana Rp. 1,1 miliar yang dibelanjakannya kali ini akan impas dalam waktu 2,5 tahun. Ia mematok target dengan sistem Closed House, setidaknya ia bisa mendapatkan keuntungan Rp. 3.000 tiap ekor ayam.

Sales Area Manager Jateng-Jatim, PT Sierad Industries, Dhanang Purwantoro ikut menjelaskan Rp. 45 ribu per ekor adalah kisaran biaya atau investasi untuk membangun sebuah Closed House dari nol dengan peralatan otomatis penuh. Angka ini meliputi biaya konstruksi, mesin, dan peralatan otomatis penuh, minus lahan dan listrik. “Tinggal dikalikan jumlah populasi yang diinginkan.” ujar Dhanang. Sementara untuk kandang “up grade” atau modifikasi sebagaimana yang ditempuh Hari, angkanya lebih rendah.

Tabel 1 - Efisiensi Closed House
Tabel 1 – Efisiensi Closed House
Sebagai pembanding, Head of Production area Jateng-DIY, Sierad Produce, Abdullah Junaidi menunjukkan catatan biaya yang dibutuhkan untuk kandang panggung terbuka ada di kisaran Rp. 21 ribu per ekor. Karena investasi yang tidak kecil ini, kebanyakan peternak berpikir ulang untuk menerapkan Closed House. Junaidi sempat mengatakan, perlu hampir 2 tahun sejak ia mengenalkan pada Hari teknologi ini, sampai ia memutuskan merenovasi kandangnya.

Senior Sales Manager PT Sierad Industries, Agus Wahyu S secara terpisah menjelaskan, untuk modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), dan tirai plastik biayanya berkisar Rp. 6.000 – Rp. 7.000 per ekor. Sementara modifikasi menjadi Closed House dengan penambahan kipas, cooling pad (pendingin), tirai plastik, tempat minum nipple dan tempat makan otomatis biayanya menjadi Rp. 8.000 – Rp. 9.000 per ekor.

Marketing Manager Equipment Division PT Agrinusa Jaya Santosa, Teddy Chandra punya patokan yang berbeda.
Hitungan dia, modifikasi kandang menjadi Closed House dengan penambahan kipas cooling pad dan tirai plastik, controller biaya per ekornya baik untuk broiler dan layer di kisaran Rp. 10.000. Biaya itu di luar biaya kandang. “Closed House untuk tiap daerah akan berbeda tergantung kondisi daerah tersebut dan untuk daerah pesisir pantai lebih baik karena kelembabannya lebih rendah.” imbuh Teddy.

Cara kalkulasi berbeda dipunyai President Director PT Berdikari Sarana Jaya, Deddy Kurnia. Menurut dia, modifikasi kandang menjadi Closed House membutuhkan biaya sekitar Rp. 70 juta. Angka tersebut digunakan untuk membeli kebutuhan kipas 5-6 unit dan tirai plastik pada kandang dengan ukuran 10 x 80 m². “Pembuatan Closed House bisa dipertimbangkan dengan dana yang diinginkan peternak karena Closed House ini bisa dibuat mewah sekali atau justru sederhana. Balik modal Rp. 70 juta bisa dikalkulasi dengan mengkombinasikan tempat makan yang dibuatkan semi otomatis.” paparnya.

Efisiensi Closed House

Deddy mengatakan Closed House lebih menguntungkan dari segi efisiensi, performa, dan banyak efek positifnya. Sayang, kompetisi peternak dalam penerapan teknologi kandang modern Closed House di Indonesia masih rendah sehingga biaya produksi masih tinggi. “Intervensi harga jual produk sulit dilakukan, karena tergantung pasar. Maka yang bisa dimainkan dengan Closed House adalah bagaimana harga pokok produksi (HPP) ini bisa lebih rendah. Investasi awal untuk Closed House mahal, tetapi biaya operasional per ekornya jauh lebih murah.” ia berargumentasi.

business efficiency - Efisiensi Closed House
Efisiensi Bisnis – Efisiensi Closed House
Teddy berpendapat, peternak yang sudah mengerti Closed House dan mampu menjalankan dengan lebih baik serta lebih efisien, akan bisa menghitung profit dari teknologi tersebut. Besarnya investasi, pemakaian listrik, termasuk biaya lingkungan, semua bisa dihitung dan dibandingkan dengan sistem kandang terbuka.

Tapi terkadang peternak masih berpikir, begini saja sudah untung kenapa harus pakai Closed House. Padahal beberapa tahun belakangan ini tantangan di peternakan unggas tidak lebih baik bahkan cuaca tidak mendukung, dan Closed House bisa menjadi solusi.” papar Teddy.

Agus membenarkan, penggunaan Closed House secara umum belum banyak berkembang, khususnya di broiler komersil karena peternak belum mengetahui atau memahami keuntungannya atau terkendala faktor lainnya. Padahal sistem Closed House sangat baik dan cocok diterapkan di Indonesia yang memiliki temperatur udara tidak stabil. “Dengan sistem Closed House usaha peternakan akan lebih efisien baik di kepadatan populasi, penggunaan pakan, kematian dan keseragaman bobot ayam.” tegasnya.

Dhanang memberikan gambaran Efisiensi Closed House yang dapat dicapai teknologi ini. Dicontohkannya, 1 kandang closed house dengan ukuran tertentu mampu memuat 24 ribu ekor broiler, dan cukup dioperasikan oleh 2 tenaga kerja. Sementara dengan sistem terbuka, untuk ukuran yang sama diperlukan setidaknya 5 kandang, yang masing-masing berkapasitas 5 ribu ekor, dengan 10 tenaga kerja (2 orang per kandang).

Belum lagi kalau lokasinya terpencar, problemnya beragam dengan ancaman yang beragam juga. “Keuntungan atau nilai lebih yang utama dari Closed House adalah kepadatan meningkat kapasitas tampung berlipat efisiensi terdongkrak.” ujarnya.

Ukuran ideal kandang Closed House. kata Dhanang, lebar 12 m panjang 120 m untuk kapasitas 21 ribu ekor per lantai. “Itu angka optimal, yang paling efisien. Hubungannya dengan kemampuan alat-alat“, terangnya.

Untuk daya tahan kandang, dijelaskan dia, mulai melakukan renovasi kecil pada tahun ke-5 untuk beberapa komponen tertentu seperti tirai. Sementara mesin pakan, drinker, kipas, baru di tahun ke-10 perlu perawatan.

Sementara itu, Junaidi menerangkan, kelebihan Closed House adalah keuntungan lebih terukur dan bisa
diestimasikan secara lebih pasti sejak awal. Berbeda dengan kandang terbuka yang risiko gagal panennya masih tinggi. Terlebih fluktuasi cuaca saat ini demikian besar, pertaruhan antara untung atau rugi masih sama besar. “Meski investasinya besar, keuntungan dengan Closed House sepadan, dan kembalinya investasi lebih terukur.” katanya.

Junaidi memberi catatan, adanya perbedaan signifikan antara kandang yang sepenuhnya otomatis dengan kandang yang meski sudah tertutup tetapi masih menerapkan sistem manual untuk peralatan pakan. “Ada signifikansi output ketika sistem kandang ditingkatkan dari terbuka menjadi tertutup, dan dari tertutup manual menjadi otomatis penuh.” paparnya. Biasanya FCR dan umur panen beda, kembali ia merujuk pada tabel komparasi (tabel). Penjelasannya, kendati suhu sudah terkontrol potensi kesalahan manusia masih lebar dan eftsiensi pakan belum maksimal.

Pemahaman peternak pada biaya tak jarang masih perlu dikoreksi. Langkah menekan biaya dianggap sebagai keuntungan. Menghemat dengan jalan mengurangi pakan, tidak menyalakan kipas, mengurangi frekuensi pembersihan sekam, masih kerap ditempuh, padahal dampaknya produktivitas menurun signifikan. “Keuntungan itu adanya di ujung usaha. Kalaupun biaya harus dikeluarkan lebih banyak dengan target output yang dihasilkan jauh lebih besar, kenapa tidak dilakukan ?” tanya Junaidi retorik. Biaya seharusnya dihitung dengan rumus “berapa Rp. dibutuhkan untuk mendapatkan 1 kg ayam“.

Lebih Nyaman

Menurut Deddy, dengan penggunaan Closed House ayam akan lebih nyaman hidup di dalam kandang karena mendapat pasokan udara yang cukup. Dari segi penyakit pun bisa dilokalisasi sehingga tidak menyebar ke kandang lain. “Dengan hidup ayam yang lebih nyaman akan berpengaruh pada mortalitas, kesehatan dan keseragamannya.” terangnya.

Comfort Zone - Efisiensi Closed House
Comfort Zone – Efisiensi Closed House
Hal yang sama disampaikan Teddy. Dengan Closed House udara yang diproduksi selalu segar karena sirkulasi udara tidak pernah absen untuk membuang panas dan amoniak. Sedangkan kandang terbuka, sirkulasi tergantung lingkungan yang terkadang tidak ada tiupan udara. Sirkulasi yang tidak lancar berpotensi menimbulkan penyakit karena suhu tubuh ayam akan naik akibat amoniak dan panas meningkat, berpusaran di kandang dan tidak keluar. “Closed House bukan hanya untuk menurunkan suhu tapi yang penting mengatur sirkulasi udara.” ujarnya.

Dengan Closed House temperatur dalam kandang lebih stabil dan bisa diatur sesuai kebutuhan. Kebutuhan oksigen dalam kandang lebih terpenuhi dan udara dalam kandang lebih sejuk dan segar karena adanya sirkulasi udara yang baik. Ini dikemukakan Agus.

Lingkungan pun lebih bersih karena tidak banyak lalat dan tidak menimbulkan bau yang mencemari lingkungan. “Yang paling penting mengurangi stress ayam karena tidak kontak langsung dengan lingkungan luar. Dan kepadatan kandang lebih besar yaitu 28 kg per m² atau 15 ekor per m² dibanding kandang terbuka yang 15 kg per m² atau 8 ekor per m².” tuturnya.

Edukasi

Meski sistem Closed House sangat mendukung keberhasilan usaha, menjadi tidak berarti apabila tidak dibarengi manajemen yang baik. Tenaga kandang mutlak menguasai teknis produksi dan teknis alat.

education - Efisiensi Closed House
Education – Efisiensi Closed House
Mencegah kejadian buruk, Junaidi menjelaskan pihaknya menerapkan metode khusus dalam alih teknologi kepada pemilik dan tenaga kandang. Calon tenaga kandang “disekolahkan” selama 2 periode di kandang yang sudah lebih dulu menerapkan sistem ini. “Alih teknologi untuk menekan sekecil mungkin kesalahan operasional, penerapan sebuah teknologi tinggi menuntut disiplin dan komitmen tenaga kandang dalam menjalankan prosedur sehari-hari.” jelas pria yang biasa disapa Juned ini.

Lanjut Junaidi, sumber penyakit ada 2, dari dalam dan dari luar peternakan. Dari dalam tergantung sumber daya manusia dan kualitas manajemen. “Kecerobohan adalah sumber penyakit. Meski kandang sudah closed, apabila aspek ini masih rendah, potensi penyakit besar.” kata dia. Sementara dari luar antara lain lingkungan, suhu, hama, dan lalu lintas. Dan untuk variabel ini di dalam sistem Closed House sudah ditekan jauh, sehingga fokusnya lebih pada aspek dari dalam.

Dhanang mengimbuhkan, saat pemasangan alat di kandang baru, calon tenaga kandang ia wajibkan ikut terlibat agar memahami prinsip kerjanya yang serba otomatis. “Sehingga menguasai betul secara teknis, ayam umur sekian harus bagaimana. Dan di kemudian hari bila terjadi kendala mesin atau kerusakan kecil dapat langsung segera menangani.” jelasnya. Ia menambahkan, dengan operasional yang otomatis, tenaga kandang bisa lebih fokus pada kontrol kondisi status ayam. Keganjilan perilaku ayam lebih cepat terdeteksi sehingga hasil pun lebih maksimal.

Prospektif

Junaidi punya kisaran, saat ini 20% mitra Sierad di Jawa Timur menerapkan kandang Closed House. Sementara Jawa Tengah-Jogjakarta riil 11 %, tetapi diperkirakan dengan proses yang tengah berjalan, sampai akhir tahun ini angkanya akan sama dengan Jawa Timur.

Prospektif - Efisiensi Closed House
Prospektif – Efisiensi Closed House
Tetapi, sekali lagi dikatakan Dhanang, dalam kualitas Jawa Tengah-Jogjakarta lebih maju. Maksudnya, penerapan sistem sekaligus peralatan yang otomatis penuh lebih progresif. Sedangkan wilayah timur cenderung aplikasinya tidak penuh, tetapi modifikasi. Deddy memprediksi penggunaan Closed House di peternakan khususnya broiler dan layer (ayam petelur) komersial akan menjadi suatu kebutuhan dengan semakin banyaknya tantangan. Ditambah peternakan yang sudah mulai dekat perumahan dan harga tanah yang semakin mahal sehingga dengan tanah yang ada kapasitasnya bisa ditingkatkan. “Sistem Closed House makin prospektif, pasarnya masih terbuka karena penggunaan di broiler komersial baru 20-30%, layer komersial bukan yang pullet baru 10%. Sedangkan di breeding (pembibitan) sudah hampir 80%.” ujarnya.

Teddy mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi terus membaik, daya beli masyarakat meningkat permintaan akan penggunaan Closed House akan meningkat pula. Apalagi persoalan penyakit dan pakan yang mahal menuntut pelaku usaha melakukan efisiensi. “Semua mengejar ke efisiensi sekecil apapun untuk menjadi pemenang.” tandasnya.

Titik krusial yang kerap mengganjal tumbuhnya teknologi ini di lapangan adalah kontinuitas pasokan listrik di seluruh wilayah tanah air yang rendah. Kebutuhan listrik tanpa terputus bagi aplikasi terutama yang otomatis penuh bersifat mutlak. Padahal peternak ketika membangun Closed House umumnya sudah harus membangun jaringan listrik yang biayanya tak kecil.

Setya misalnya harus merogoh kocek sedikitnya Rp. 25 juta untuk mengalirkan listrik dengan menambah 3 tiang listrik (togor). Sementara Hari mengaku keluar dana khusus Rp. 68 juta dengan penambahan 11 tiang listrik. Itu pun tak cukup aman. Karena listrik yang kerap padam, peternak harus menyiapkan genset untuk antisipasi. Kalau tidak ingin ayamnya terpanggang kepanasan atau mati kelaparan dan kehausan di saat listrik dari PLN ngadat.

Sumber : Dhanang Closed House (Bagian 1 & Bagian 2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: